Bangun Rumah Upah Harian atau Borongan?

Apabila Anda memang ingin membangun sebuah rumah tinggal atau pun melakukan renovasi rumah, maka Anda bisa memilih menggunakan jasa tukang secara langsung dengan sistem upah harian atau dengan menggunakan jasa pemborong?

Kami akan membagikan sebuah informasi menarik tentang pilihan terbaik dalam membangun rumah, menggunakan upah harian atau borongan yang bisa disesuaikan dengan keinginan dan keuangan Anda.

Bangun rumah upah harian

Jika Anda memang menggunakan jasa tukang yang dibayar secara harian, setelah mencapai kesepakatan besarnya upah tukang atau pekerja tiap harinya, maka pelaksanaan pekerjaan bisa segera dilakukan. Sekarang ini khususnya di wilayah Jakarta, besar upah harian berkisar Rp 100 ribu rupiah per hari. Pembayaran upah tukang ini dapat dilakukan sesuai dengan kesepakatan yang dilakukan setiap harinya atau pun dikumpulkan lalu dibayar setiap satu minggu sekali.

Material atau bahan bangunannya pun harus Anda sediakan dalam jumlah yang cukup, supaya nantinya tukang atau pun pekerja bisa bekerja secara terus menerus tanpa ada gangguan karena material yang kurang atau malah habis sama sekali. Hal ini menjadikan produktifitas tukang atau pekerja bisa terjaga.

Kelebihan dalam menggunakan tukang dengan sistem upah harian ini adalah umumnya hasil kerjanya jauh lebih bagus serta Anda juga bisa bebas memberi pengarahan di dalam pelaksanaan pekerjaannya. Sedangkan kerugiannya adalah sistem upah harian tersebut perlu pengawasan yang lebih, sehingga mungkin menjadi lebih merepotkan bila Anda sendiri sudah sibuk serta tidak mempunyai waktu yang cukup. Biaya total upah harian umumnya lebih mahal dan waktu pelaksanaannya cenderung lebih lama.

Bangun rumah sistem borongan

Bila Anda menggunakan jasa pemborong atau bangun rumah sistem borongan, secara garis besar ada dua pilihan, yakni memborongkan pekerjaan secara total, untuk material serta upah atau pun hanya upah kerjanya saja.  

Khususnya untuk sistem borongan material dan juga upah ini, Anda nantinya hanya perlu memberi gambar dan juga spesifikasi material yang diinginkan. Selanjutnya pemborong yang akan melakukan pembelian material serta bahan bangunan maupun melaksanakan pekerjaan sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Keuntungan sistem borongan ialah nantinya tidak harus dipusingkan lagi untuk melakukan pembelian material, tapi yang harus Anda lakukan di sini adalah memastikan material yang didatangkan tersebut sudah sesuai dengan spesifikasi teknik yang Anda inginkan. Kerugian menggunakan system borongan ini adalah biaya total pastinya jauh lebih mahal, sebab pemborong tentu akan mengambil untung dari harga material atau bahan bangunan yang dipergunakan tersebut.

Untuk sistem borongan upah saja, sama halnya seperti sistem harian, Anda harus lakukan pembelian material atau bahan bangunannya sendiri. Umumnya terbagi lagi jadi dua bagian, sistem borongan upah dihitung secara plak atau pun keteng, pada borongan upah secara plak tersebut maka pemborong nantinya akan menghitung upah kerjanya berdasar gambar serta spesifikasi sehingga dapat dihasilkan nilai tertentu, contohnya saja Rp 900 ribu rupiah per m2 yang dikalikan dengan luasan bangunannya. Sedangkan pada sistem borongan keteng ini akan disepakati harga satuan upah per satuan pekerjaan, contohnya saja upah pemasangan dinding Rp 30 ribu rupiah per m2, dan lain-lain, yang nantinya akan dihitung sesuai dengan luasannya.

Itulah tadi perbandingan bangun rumah upah harian dan borongan yang bisa kami informasikan kepada Anda semuanya. Semoga saja bisa bermanfaat.

Leave a Reply